Milis KOMUNITAS MERAPI: Apa itu "Budaya Baru"? (I)

upek saka <[email protected]>
Newsgroups gmane.mail.archives.mail-archive
Message-ID <[email protected]>
Milis KOMUNITAS MERAPI: Apa itu "Budaya Baru"? (I)
 
 
Sebagai Moderator milis saya ingin membiaskan gagasan baru di milis
ini yang dipertanyakan Sdr. KOKO , Mahasiswa Filsafat di Malang-
Jatim .

Saya persilahkan, teman-teman berkomentar. Bung Masenugik di Swedia,
teman-teman di Jerman, Austria, Amerika dan juga yang di Indonesia:
Mbak Dewi di Yogya, Muntilan; Magelang, Semarang, Solo, Jatim, Jabar
ditunggu komentarnya, juga mas Ratmoko yang sedang di Aceh. apa
itu "budaya baru" Bisa dilihat dari berbagai aspek karena budaya
sendiri cakupannya cukup luas, silahkah.....

Dalam milis Sdr. KOKO menulis "di tempat aku tinggal besok
tanggal 14 september ada kegiatan "lincak sastra". lincak sastra itu
sebuah kegiatan kesenian di mana mereka boleh mengeluarkan apa saja
yg menjadi unek2 mereka.temanya besok itu kalo gak salah membangun
budaya baru, soalnya agak lupa-lupa inget. ngundang pak tengshu
cahyono, seniman malang n kelompok keroncong kang sigit.kalo teman2
tanya budaya baru apa yg mau dibangun aku gak tau. mungkin teman2
punya masukan tentang budaya baru itu? apa komunitas merapi ini juga
semacam budaya baru?"

Selain itu sdr. KOKO juga mempertanyakan keberadaan KOMUNITAS MERAPI
tentu saja dengan gelar budaya yang telah dipentaskan dan ingin tahu
tentang KOMUNITAS MERAPI. Sdr KOKO menulis, "aku tinggal di malang
untuk studi.aku liat profil milis ini keliatannya menarik. aku jadi
penasaran komunitas merapi itu seperti apa n pingin datang ke sana
sendiri.tepatnya dimana sih komunitas merapi itu?...apa komunitas
merapi ini juga semacam budaya baru?"

Kami tunggu juga tanggapan dari Budayawan KOMUNITAS MERAPI yang tidak
asing lagi yakni V. Kirdjito, Pr. apakah KOMUNITAS MERAPI juga hendak
memunculkan fenomena baru sebagai "budaya baru", padahal yang
dipentaskan kesenian daerah seperti wayang orang (Sitras Anjilin),
jalantur, jantilan, bejuritan, dll, juga tentu saja tidak boleh
dilupakan kehadiran teater Godong (Ismanto dkk), Teater anak Merapi
dll.


Silahkan....tentu saja tema KOMUNITAS MERAPI INI juga terbuka untuk
umum. Monggo....


Salam Moderator
Aan
 


Budaya Baru (Habitus Baru, Nota Pastoral KWI 2005),  bisa saya sebut sebagai pilihan cara pandang yang berbeda dari cara pandang umum, tepatnya cara pandang yang disebut "salah kaprah." Budaya baru berarti sebuah pilihan untuk tidak ikut arus "salah kaprah" itu tadi. Contoh. Komunitas Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA) diundang rapat di propinsi. Dalam rapat dikatakan bahwa GMCA mendapat bantuan InGub Rp. 76.000.000. GMCA bertanya: "Apakah ada surat bahwa GMCA mendapat bantuan itu?" Dijawab surat hanya ditujukan kepada Bupati." GMCA menjawab, berapapun bantuannya kalau tidak ada hitam di atas putih, GMCA tidak akan mengambil bantuan itu. Seminggu kemudian GMCA mendapat surat tembusan. Surat aslinya sudah dikirim ke Bupati satu bulan yang lalu. Bayangkan, kalau GMCA ikut "salah kaprah" apa yang terjadi?
 
Jadi salah satu gagasan budaya baru adalah berpikir logis, bersikap sesuai dengan pemikiran itu, dan bertindak dengan berani melawan arus. Jadi, budaya baru bukan hanya soal kesenian jathilan, keroncong dsb. Kata budaya tidak sesempit ekspresi manusia dalam bidang seni. Itu salah satu produk budaya. 
Nah, silahkan meneruskan pemikiran sendiri dengan percaya diri, tanpa mbonceng pemikir-pemikira besar. Setiap orang itu juga pemikir besar, cuma tidak dibesar-besarkan,
 
Selamat berdiskusi
V. Kirjito / GMCA Merapi


 
 
Saya juga termasuk yang tidak tahu, macam apakah budaya baru itu. Mengingat budaya mempunyai aspek sanagt luas, mungkin akan lebih mudah menyebut produk budaya seacara spesifik saja untuk mengukur kebaruan sebuah budaya. Misalnya soal kesenian itu tadi. Dalam konteks sosial kebudayaan masyarakat dan komunitas di lereng Merapi, bisa jadi tidak ada yang bisa disebut sebagai baru. Kesenian-kesenian masyarakat lereng Merapi mempunyai sejarah yang panjang dan terus menerus mengalami reproduksi sehubungan dengan masuknya nilai-nilai dan budaya-budaya dari luar yang dibawa kotak televisi. 
 
Kalau produk-produk budaya masyarakat lokal mengalami penguatan saat-saat ini, bisa jadi karena serangan globalisasi yang tak henti. Setahu saya, globalisasi tidak sekedar mengintegrasikan nilai atau pun komoditas, tetapi juga menampilkan penguatan nilai-nilai lokal yang tertekan oleh inetgrasi tadi.  

dari: Elang Merapi
 
 
teman2 sekalian,
milis ini mempunyai predikat merapi... sebagai orang
magelang, sepertinya logis kalau tiap hari melihat
gunung merapi... tetapi, terus terang saya belum
mengenal apapun yang ada di sekitar gunung merapi...
memang antara selama 2003-2005 awal, saya sering
sekali menyusuri jalur blabak-boyolali via selo...
entah pagi, siang, sore, bahkan tengah malam, saya
menikmati benar jalur ini.. namun, tidak sempat kontak
dengan yang namanya komunitas merapi...
jadi sebetulnya saya gabung dengan milis ini lebih
untuk mencari wawasan baru dari komunitas merapi...
dan hanya secara kebetulan sempat posting sebuah puisi
dari dosen bahasa inggris saya yang tinggal di
canada... sebuah puisi tentang perjalanan ke deles...
nah, sekarang ada topik diskusi tentang "budaya
baru".. terus terang saya sedang mempelajari pemikiran
semacam apa yang sudah tumbuh di komunitas merapi...
romo kirjito sudah mengemukakan salah satu jurus dari
budaya baru, yang kalau saya tidak salah tangkap,
merupakan gerakan anti korupsi yang sudah membudaya di
birokrasi kita... meski sebetulnya cakupannya lebih
luas lagi... (karena saya seorang birokrat dari
departemen keuangan, saya mempunyai pengalaman pribadi
tentang bagaimana menyikapi fenomena korupsi, tentunya
tidak dengan cara pandang hitam-putih)... dan dari
elang merapi juga terungkap adanya pemahaman adanya
benturan antara nilai2 globalisasi dan nilai2 lokal...
(dan disini sering muncul suatu paradoks, dengan
globalisasi seakan nilai lokal punah, tetapi juga
kadang nilai lokal justru malah menjadi trade mark
yang punya nilai jual).
ok, kembali ke topik budaya baru... yang sepertinya
tidak terbatas pada konteks merapi... mungkin ada
baiknya dimulai dengan ungkapan: there is nothing new
under the sky... memang, sebetulnya yang namanya
peradaban manusia (sepanjang kita kenal) tidak
mengalami perubahan... sering, apa yang namanya
perubahan hanyalah superficial, hanya di permukaan,
tidak substansial... bahkan yang namanya teknologi
pun, betapa canggihnya, toh yang namanya kehidupan
tidak mengalami perubahan secara substansial...
di lain pihak, by definition, hidup ya hidup... ada
dinamika, yang mengasumsikan adanya perubahan... dan
menjadi harapan kita semua bahwa dinamika ini akan
mengarah kepada semakin memanusiakan manusia, semakin
menghidupkan kehidupan, dengan suatu penekanan khusus
(kalau mau) untuk membangun relasi yang hamonis antara
manusia dengan alam (pengertian alam tidak hanya
hutan, gunung, sungai, laut dsb., tetapi lebih
inklusif, termasuk alam yang tidak kasat mata)
nah, dalam konteks ini saya setuju untuk melakukan
suatu gerakan baru (karena memang harus selalu
diperbaharui), meski mungkin justru dengan kembali ke
pola pikir nenek moyang kita... jadi konotasi "baru"
bukan berarti tidak lama dan belum pernah ada...
konotasi baru lebih mengarah kepada gairah hidup yang
selalu (secara kualitatif) mengarah kepada hidup yang
sejati... tentunya, dalam tataran implementatif, perlu
ada langkah2 konkrit supaya dapat diterapkan di dunia
nyata, tidak hanya di awang2... cuma, justru di titik
ini kita menemukan suatu homework yang besar...
maka, dengan framework di atas, marilah kita mulai
dengan diri kita masing2, di lingkungan kita masing2,
disertai harapan semoga komunitas merapi akan semakin
berperan dalam ikut serta menciptakan hidup baru,
hidup yang selalu baru, yang mengarah kepada hidup
yang sejati...
last but not least, sebetulnya secara spiritual di
merapi tersimpan ajaran tentang hidup itu sendiri...
meski tidak hanya di merapi (gunung2 tertentu di pulau
jawa seakan merupakan suatu kerajaan sendiri yang
menyimpan kekayaan spiritualnya masing2)

salam dari banda aceh,
ratmoko
 

Romo, niku sanes budaya baru.

Budaya dibangun atas sistem nilai (values), yang dipraktekkan dalam
perlaku (behaviour), lantas dijadikan sebagai sebuah kebiasaan
(habit).

kumpulan habits tersebut akan membangun sebuah ideologi bernama
culture (budaya).

bangunan budaya akan mmebentuk civilization (peradaban).

Bangunan yang kok bertahan selama 700 tahun di belahan timur tengah
dan sebagian eropa adalah Sistem Khilafah Islamiyah, yang ketika itu
Eropa masih dipenuhi dengan kegelapan dan anti ilmu pengetahuan.

Roda berputar, Khilafah terakhir di Turki dihempas oleh militer
Inggris, dan beralihlah model perdaban baru Eropa Kapitalistik, yang
mengedapankan sistem ekonomi kapital.

Kontra kapital adalah sosialistik, sebagai jawaban atas ketidakadilan
dan penindasan kapital.

Nah, zaman sedang menunggu sebuah bandul berulang: Sistem Khilafah
yang menegakkan keadilan berdasarkan kemanusiaan universal: ... dan
janganlah perbedaan dan kebencian mu pada sebuah kelompok atau sekte,
menyebabkan engkau tidak adil kepada mereka..

sebagian saksi Jehova sudah bergerak kemana-mana, sebagai pertanda
inilah bagian dari akhir skenario munculnya khilafah yang
mengakomodasi kesalehan tidak saja muslim juga kristen dan agama non
samawi lainnya...

peace and freedom in your faith and belief ....
lakum dinukum waliyadien......
kebebasan manusia untuk teguh kukuh dalam keimanan sesuai keyakinan
masing-masing tanpa dibelenggu oleh himpitan ekonomi dan kekuasaan...

salamun salam, 'alaikum ; keselamatan untuk semua manusia...

budaya baru adalah bagian dari sebuah skenario besar akhir jaman..

wassalam
nugikmase


masenugik...kalo kebiasaan itu dapat membentuk suatu budaya? bisa-bisa susah mas. kebiasaan orang-orang itu beda-beda. kebiasaanku sama kebiasaan mas juga bedakan. trus misalnya apa (sori) kentut yg jadi kebiasaaan juga merupakan suatu budaya? kalo gitu mungkin malahan yg ada itu budaya salah kaprah seperti yg dikatakan romo Kir. 
 
ato mungkin yg dimaksud sama mase yaitu kebiasaan yg dibangun atas sistem nila ya? masalahnya sistem nilai yg mana yg bisa dipake? apa semua sistem nilai? gak bisa mas kalo gitu! nilai yg mas amini beda dengan sistem nilai yg aku amini, begitu juga dengan yag lain. 
 
satu lagi... kalo budaya baru merupakan sebuah skenario besar akhir jaman... brarti kita tidak perlu susah-susah membuat budaya baru itu karena nantinya toh akan terlaksana! tapi apa kita betah kalo hidup di bumi dengan budaya yg salah kaprah terus? apa kita bisa betah kalo hidup dalam budaya melik nggendhong lali. kita harus bisa donk membuat melik tanpa nggendhong lali. 
 
aku setuju dengan romo Kir. kita harus berenang melawan arus yang ada.
 
itu aja dari aku...
thanks KOKO
 
mas koko sampeyan kok pinter tho, wah.. jan... wis aku manut ndisik
lah. acuanku sih sebagian si mas steven covey nyang beken dengan
teori seven habitnya itu, dari situ kita bicara masalah budaya,
values, behavior, habits, dst.

teori lain yang aku acu adalah teorinya sosioantropologis, bahwa pada
dataran tertentu sebuah entitas bukanlah budaya, namun masih dalam
tahapan kebiasaan. atau perilaku. kebiasaan (habits) dan perílaku
(behaviour) itu beda lagi dengan sikap (attitude) dan bangunan corak
berpikir (paradigm).

memange benar, bahwa sistem nilai yang berbeda akan menghasilkan
budaya yang berbeda pula, nah budaya dengan kebudayaan itu juga teks
dan konteksnya berbeda, karena budaya sering diidentikkan dengan
culture, sementara kebudayaan adalah bagian dari peradaban
(civilization).

skenario itu bukan berarti "everything will be running well", jadi
skenarion adalah bagian dari perencanaan (planning), dan kalo kita
meminjam teorinya Frame, nyang nulis Mananing risk in organization,
skenario adalah bagian dari antisipasi risiko dalam bangun organisasi.

Nah, tentang budaya salah kaprah harus didefinisikan dulu:
- apakah pengertian pemahaman budaya yang salah
- apakah sistem etiks budaya yang kurang sesuai dengan sistem nilai
masyarakat setempat
- apakah ngomong budaya waton ngomong seperti di koran-koran: salah
kaprah salah kaprah....

kalo gitu ya udah , aku nyerah. soalnya nyang aku debat kan sekelas
seorang Romo, yang belajar filsafat sampai njlimet, jadi guwenya kan
harus pura-pura tahu, gitu lhooo....

jan jane aku yo ora ngerti kok....., ning lak lumayan ora ngawur....
iyo oraaaaaaaaaaa.............. (oraaaaaaaaaaa...........; lho!!!)

yo wis, ayo dilanjut nyang mau ndebat.... aku wis kesel, arep
istirahat ndisik...

musim gugur iki angine banter, hawane mulai adem..., atine dadi
nelongso........

kepiye iku kabare Mbak Mega Vristian di negeri Hongkong, tgl 12
oktober aku arep nglewati Hongkong numpak Thailand air ways,
tunggunen ndek transit neng suroboyo....

ning jangan diajak debat, aku wis lali kabeh saiki...

budaya melawan arus? sek.... sik.... arus sing ngendi? iki lak
modelnya anak remaja, serba melawan arus.... 8masih ingat tho...
ceramahe poro guru bimbingan dan penyuluhan...: remaja adalah serba
melawan arus... ingin tampil beda.....).

nah, kalo menurut mbahe amerika, budaya melawan arus adalah melawan
kebijaksanaan global amerika, jadi harus dihancurkan..

arus ndek sini juga kudu jelas, arus yang mana, kepiye critane kok
harus melawan arus....

budaya sendiri kalo dalam terminologi sosioantropologi lak bebas
nilai tah, artinya tidak bisa dijudgment budaya-nya Jawa lebih bagus
ketimbang budaya-nya Dayak, sedangkan judgment sendiri
dilatarbelakangi oleh sistem etik dan estetik.

nah, malah tambah ruwet tah...., makanya mestinya Romo Kir
menjlentrehkan budaya harus yang agak ilmiah gitu lho Romo...., entar
diprotes para wartawan budaya....

salam mas Koko... ojok nesu opok-o...., entar malah jadi kentut lho
(lha kok kebiasaan kok yo kentut tho ya.....: ojok nesu lho yo.....,
iki guyone arek malang.....)

wassalam
masenugik
 


---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 




    Visit your group "komunitas_merapi" on the web

    To unsubscribe from this group, send an email to:
 komunitas_merapi-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------

* To send a message to the members of this group, send an email to:
  [email protected] 
  
* To learn more about the komunitas_merapi group, please visit:
  http://groups.yahoo.com/group/komunitas_merapi

* To view and modify all of your groups, visit:
  http://groups.yahoo.com/mygroups

Salam Moderator

		
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
_______________________________________________
Discussion list for The Mail Archive
[email protected]
http://jab.org/cgi-bin/mailman/listinfo/gossip
lmpx.com only provides a reader for public news (NNTP) servers. It is not affiliated with the servers or forums shown here and is not responsible for the content of articles, which is written by their respective authors.