Fenomena Snouck (dari milis barrac)

Suryadi Siregar <[email protected]>
Newsgroups gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Message-ID <[email protected]>
Barangkali bisa dicoba oleh pemimpin kita untuk menyelesaikan konflik di Papua. Artikel dari milis tetangga.
Salam
Suryadi
________________________________________________________

Pengamatan Snouck terhadap Aceh sebenarnya sudah dimulai saat ia berada di Mekkah.
Dia tertarik melihat orang Arab sering memperbincangkan Perang Aceh. 
Orang Aceh cukup banyak dan begitu fanatik dalam melawan Belanda. Ia ingin sekali menyumbangkan usulan ilmiah kepada pemerintah guna menundukkan Aceh. 
Hal yang segera disampaikan kepada pemerintah Belanda, adalah mengusahakan pemisahan Islam dan politik di negeri jajahan. 
Para jamaah haji diawasi, karena berpotensi membawa ide pan-Islamisme ke Aceh. 
Ini bertentangan dengan kepentingan Belanda.
Setelah kembali ke Leiden selama dua tahun, Snouck menawarkan diri untuk ditugaskan ke Aceh. Dia pun masih terus berkorespondensi dengan ulama-ulama Serambi Mekkah. 
Jabatan lektornya dilepas pada pertengahan Oktober 1887. 
Proposal penelitian kepada Gubernur Jenderal segera diajukan pada 9 Februari 1888. 
Niatnya didukung penuh oleh Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP), juga Menteri Urusan Negeri Jajahan. 
Proposal pun berjalan tanpa penghalang.
Snouck segera berangkat. Tempat yang dituju adalah Aceh. 
Sayang, begitu sampai di pelabuhan Penang (Malaya), Gubernur H.K.F. van Teijn melarangnya masuk Aceh, pada tanggal 1 April1889. 
Alasannya, Snouck bergaul dengan kaum pelarian dan berusaha masuk ke Aceh secara gelap. 
Akhirnya Snouck meluncur ke Batavia (kini Jakarta) dan tiba pada tanggal 11 Mei 1889.
Sebenarnya, Snouck mau melakukan tugas penting ke Aceh (1889) atas perintah Belanda. 
Ini sangat rahasia, ia naik kapal pos Inggris sampai ke pantai Sumatra. Melalui Pelabuhan Penang ia masuk pedalaman Aceh sampai ke istana sultan dengan cara memanfaatkan tradisi menghormat sesama Muslim yang dikenalnya di Mekkah. 
Tapi di pihak lain, perjalanan itu dianggap mata-mata oleh militer Belanda di Aceh. 
Mereka keberatan, maka ia harus dipulangkan.
Di Batavia, Snouck bekerja sebagai pegawai pemerintah. 
Snouck langsung akrab dengan pribumi Batavia, termasuk ulama. 
Ini membuat Direktur PAP terkesan dan mendesak Gubjen Cornelis Pijnacker Hordijk agar mengabulkan permohonan penelitian itu. 
Keluarlah beslit yang mengizinkan Snouck melakukan penelitian selama dua tahun, sejak 16 Mei 1889, disusul beslit Raja Belanda pada 22 Juli 1889. 
Bahkan ia diangkat menjadi Penasihat urusan Bahasa-Bahasa Timur dan Hukum Islam sejak 15 Maret 1891.
Sejak menjadi penasihat itu, naluri politik Snouck mulai mempengaruhi posisinya sebagai ilmuwan. 
Meja kerja penasihat terus menggiring pemikirannya untuk selalu menyertakan tendensi politis di setiap analisisnya. 
Sifat seorang ilmuwan yang mengedepankan objektivitas dalam diri Snouck mulai luntur. 
Menurut Schroder, ilmuwan Belanda, tangan kotor Snouck telah jauh terlibat dalam fungsi politik kolonial.
Pada tanggal 9 Juli 1891, Snouck ke Aceh, bahkan menetap di Kutaraja (kini Banda Aceh). Ia menjadi orang "kepercayaan" Joannes Benedictus van Heutsz, jenderal Aceh yang kemudian menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909). 
Pengamatannya menghasilkan tulisan Atjeh Verslag, berisi laporan kepada Belanda tentang alasan mengapa Aceh harus diperangi. 
Sekitar tujuh bulan kemudian kembali ke Batavia. Pekerjaannya bertambah menjadi Penasihat urusan Pribumi dan Arab. 
Lembaga yang didirikan 1899 ini bisa dipandang sebagai cikal bakal Departemen Agama [Wb]
 
Selama tujuh bulan Snouck Hurgronje  berada di Aceh, yakni sejak tanggal 8 Juli 1891. 
Di Aceh, dia dibantu beberapa orang pelayannya. 
Baru pada 23 Mei 1892, Snouck  mengajukan Atjeh Verslag, yaitu laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasihat strategi kemiliteran Snouck. 
Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. 
Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. 
Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.
Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. 
Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai ini diharapkan dapat berhasil.
Snouck kemudian mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. 
Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik Divide et impera. 
Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. 
Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung. 
Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang.
Van Heutsz adalah seorang petempur murni. 
Sebagai lambang marsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras. 
Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam.
Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. 
Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. 
Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. 
Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. 
Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.
Dalam lingkup internal mereka, perubahan paradigma ini memunculkan konflik kepentingan yang lain yaitu tentang posisi penguasa di Aceh. 
Pendekatan tanpa kekerasan, otomatis pengurangan pasukan harus dilakukan. Sedangkan Van Heutsz merupakan orang yang sangat menentang itu. Ia bahkan mengusulkan status di Aceh tetap dipegang Gubernur Militer [Wb]

_________________________________
_______________________________________________
Yonsatu mailing list
[email protected]
http://mahawarman.net/mailman/listinfo/yonsatu
Archive: http://mahawarman.net/pipermail/yonsatu/
lmpx.com only provides a reader for public news (NNTP) servers. It is not affiliated with the servers or forums shown here and is not responsible for the content of articles, which is written by their respective authors.