Re: [indoexpat-uk] Laporan pandangan mata temu Jokowi
Ronald Alexander Indra via uk <[email protected]> Wed, 20 Apr 2016 20:49:19 +0000 (UTC)
| Newsgroups | gmane.org.region.indoexpat.uk |
|---|---|
| Message-ID | <[email protected]> |
Jika boleh menambahkan yang telah disampaikan Pak Roddy:
Acaranya di undangan kan rencananya dimulai pukul 18:30, tapi katanya dimulai lebih awal karena Jokowi langsung ke Wisma Nusantara nggak pake acara mampir di hotel dulu. Berhubung kantor di luar London, saya agak telat sampai ke wisma, sampe jam 18:45. Ada petugas di luar yang nanyain undangan, lalu discan barcode-nya pakai HP. Yang tidak dapat undangan masih diperbolehkan masuk asalkan membawa paspor/ identitas diri yang lain. Yang telat-telat ini tidak bisa masuk ke tenda utama, tapi pada di tenda samping yang ada TV layar lebar. Sebenernya ini bless in disguise jg karena yang di tenda utama apalagi bagian tengah dan belakang tidak bisa melihat Jokowi dengan jelas, apalagi presentasinya (saya masuk ke tenda utama di akhir sesi tanya jawab ketika bbrp orang keluar). Untuk yang telat-telat di tenda samping, kualitas TV HD, tajam banget dan presentasi-nya bisa terlihat jelas.
Secara umum acara semalam dibagi menjadi 4 sesi.
1. Sesi presentasi dari Jokowi
2. Sesi Q&A
3. Sesi foto bareng dengan Presiden dan Dubes
4. Sesi selfie bareng Presiden
Dibawah versi lengkapnya
1. Sesi presentasi
Di bagian ini Jokowi mempresentasikan project project dia di bidang infrastruktur seperti Tol Trans Sumatra dan memangkas waktu untuk perijinan dan memangkas jumlah perijinan (misalnya dari 50an ke 22). Lalu soal pembangunan yang seharusnya lebih Indonesia-sentris dibandingkan jawa-sentris. Beliau juga memberikan kenapa infrastruktur itu penting, menggunakan harga semen di Pulau Jawa vs Wamena vs pelosok papua (semen bisa 2.5 juta per sak di Papua).
2. Sesi Q&A
Pak Dubes memberikan dua pilihan (1) ada tiga pertanyaan + sesi foto2 atau (2) ada 4 pertanyaan tanpa sesi foto2. Dipilihlah tiga orang dari peserta. Yang pertama sebenernya bukan dipilih, tapi ditunjuk langsung, yaitu ketua PPI UK (kalo ndak salah namanya Media dari Manchester - mahasiswa PhD). Dia cerita pengalaman dia di Papua dan Kalimantan plus di akhir minta tolong beasiswa Dikti supaya diberesin. Ini sebenernya saya juga bingung, dari tahun 2011 kan beasiswa DIKTI ini bermasalah, ternyata sampai sekarang masih ada masalah jg. Pak Jokowi sudah mendengar masalah ini dan semoga cepat dibereskan.
Penanya kedua dari ibu-ibu. Pertanyaannya ada tiga: 1. mengenai pariwisata Indonesia yang kalah dari Thailand/ Malaysia 2. Registrasi pemilu yang amburadul, dia memberi contoh suaminya dapat undangan pemilu, dia nggak dapat undangan pemilu, mertua dia yang udah meninggal malah dapat. 3. Lupa euy. Penanya ini agak lucu, pake "Tolong Pak" yang memelas banget dan semua pada ketawa, wong tiap penanya hanya dikasih jatah 1 pertanyaan, dia minta dua. Ketika sudah dikasih dua minta tiga.
Penanya ketiga namanya Soe Tjen Marching. Her name does ring a bell karena saya pernah baca beberapa artikel dia tentang kejadian 1965. Pertanyaan dia pun nggak jauh2 dari kejadian 1965 dan menyesalkan pernyataan Luhut Panjaitan (meskipun dia salah ngomong Luhut Panggabean). Setahu saya pertanyaan seperti ini tabu untuk ditanyakan di KBRI. Saya pernah ngobrol dengan exile 1965 (Pak Tom Ilyas) yang tinggal di Swedia. Ketika SBY ke Scandinavia (negaranya saya lupa), dia ini di-cegah masuk KBRI jadi tak bisa menanyakan soal 1965. Mungkin skrg jaman Jokowi KBRI lebih open dengan pertanyaan2 sensitif seperti ini.
Selesai nanya Jokowi minta semua penanya ke depan, berdiri di kanan kiri dia, rasanya ini buat diambil fotonya oleh fotografer istana kepresiden lalu mereka dipersilahkan duduk dan kemudian Jokowi menjawab pertanyaan satu demi satu.
Jawaban ke Ketua PPI UK -> yang tentang beasiswa Dikti, Jokowi sudah mendengar berkali-kali dan tahu mengapa ini sering telat. Feeling saya sih akan ada yang dicopot pas Jokowi balik ke Indonesia
Jawaban ke Ibu-ibu -> mengenai pariwisata, Indonesia lagi fokus ke 10 destinasi utama (toba, pulau komodo, dkk). wisman ke Indonesia cuma 10 juta per tahun coba bandingkan dengan Malaysia 22 juta dan thailand 27 juta. Intinya masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan
Jawaban ke Soe Tjen -> Presiden belum memutuskan dan masih mendengar. Detail-nya bisa dilihat di liputan BBC Indonesia (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160419_indonesia_jokowi_maaf_1965) . Saya dari luar sih mendengar pernyataan balasan dari jawaban Jokowi dari dalam tenda utam (kemungkinan ini dari penanya yang ngomong tanpa microphone, jadi nggak jelas dia ngomong apa).
3. Sesi foto resmi (atau makan)
Ini agak rusuh karena semua berdesakan pengen foto sama Presiden. Panitia sampai kasih pengumuman jangan berdesak-desakan. Saya dan Mas Fauzan milih nunggu aja dulu dan ngambil makan malam. Makan malamnya OK (kecuali bihun-nya agak apek baunya atau basi ya?). Sehabis makan dan antrian agak dikit, barulah kami ikutan sesi foto sama presiden. Basically Pak Presiden dan Pak Dubes duduk di bagian dalam dan kami di belakang mereka. Pas masuk petugas (atau paspampres ya) ngitung jumlah yang bisa masuk buat foto bareng (mungkin 15-20 orang per group foto?). Presiden yang ini memang berbeda, nggak ada jarak sama sekali dengan rakyat - literrally - orang di sebelah kiri saya sebelum foto minta salaman saya Jokowi dan dilayani; akhirnya saya ikut-ikutan jg minta salaman dan dapet :). Paspampres ini pasti pusing kepalanya menjaga Presiden kita yang satu ini karena harus memastikan Jokowi tetap dekat dengan rakyat sekaligus menjaga keselamatan Presiden tanpa mengganggu kedekatan ini. Nah disini abis selesai saya mau ngasih printout ke Jokowi (isinya beberapa point dari milis IndoExpat), tapi dicegah sama petugas (kemungkinan paspampres), ya udah nggak jadi deh. Setelah sesi foto resmi ini saya ketemu Bang Eddy Manurung dan ngobrol2 bentaran soal Indefinite Leave to Remain. Mungkin Bang Eddy bisa nambahin yang kurang di laporan pandangan mata ini?
4. Sesi selfie
Saya kaget jg sebenarnya Jokowi masih mau melayani foto tidak resmi (bukan di dalam ruangan, tapi di tenda utama). Setelah ngobrol sama Bang Eddy dan masuk tenda utama, ada satu orang dateng nunjukin foto dia yang selfie bareng Jokowi. Busyet deh, saya kagum juga sama Jokowi yang seharian capek ketemu Cameron dan pelaku bisnis disini, memberikan presentasi, Q&A, foto resmi bareng, masih mau juga memberikan kesempatan untuk selfie. Beda banget sama pejabat-pejabat yang lain yang berjarak sama rakyat.
Anyway, baru kali ini saya lihat langsung bahwa tidak ada sekat antara presiden dan rakyat-nya. Dulu pas 2003/2004 wapres Hamzah Haz berkunjung ke kampus di Bandung, daerah Aula Barat di-jaga dan mahasiswa ngga boleh deket2 daerah itu. Lha sama Jokowi malah banyak yang bisa salaman.
Ada yang mau menambahkan lagi?
On Wednesday, 20 April 2016, 21:40, Perry Ismangil <[email protected]> wrote:
Wah terima kasih sekali Pak Roddy, much appreciated.
Iya saya dengar live streamnya di radio PPI, dan punya pendapat sendiri 😊
Cuma takutnya kalau tidak datang kan dituduh tidak "ngeh" suasana "live
show" dong... 😂
On Wed, 20 Apr 2016, 21:29 Loverv via uk, <[email protected]> wrote:
> Baru aja sy duduk, mau tulis pak Perry :)
> Sabar... :)
>
> Btw, apa ada yg mendengarkan lewat radio PPI UK?
>
> Singkatnya, tdk ada yg menyentuh hal2 yg pernah kita bahas.
>
> Walaupun alokasi-nya 2.5 jam, tapi sesi tanya jawab cuma tdk sampai 30
> menit. Sisa waktunya dipakai foto2 saja, tdk substantive.
>
> Yg tanya cuma 3 orang, total tdk sampai 10 menit. Pak Jokowi jawabnya 20
> menit.
> Yg satu, ketua PPI UK.
> Yg kedua, komplain masalah tahun 65 spy diinvestigasi ulang.
> Yg ketiga, pertanyaan2nya intinya mengenai promosi kuliner tanah air di UK.
>
> Jika saya boleh memberi feedback ke pak Jokowi, seharusnya Sesi tanya
> jawab-nya lebih lama (2.5 jam spt yg dialokasikan di undangan) dan agar
> tanya jawab-nya terfokus pada tema2 substantif yg berhubungan dg minimum 3
> element utama di UK (1.Mahasiswa/i yg sedang studi di UK, 2.Masyarakat
> indonesia yg di UK, dan 3.indoexpatriat/pebisnis di UK).
>
> 3 element itu minimum, bisa lebih, misal: YIPA, IDN dll. Tapi, 3 element
> itu sbnrnya adalah minimum.
>
> Tipe undangan-nya sudah dibagi tiga seperti itu. Tapi, prakteknya agak
> amburadul.
>
> Disinilah, perlunya minimum 3 organisasi (yg masing2 punya delegasi yg
> dikirim) yg bisa membawa suara/pertanyaan dari tiap elemen.
> PPI UK adalah suara mahasiswa/i yg studi di UK.
> Tapi, kelihatannya belum ada secara terorganisir yg mengorganisasikan 2
> element utama yg lain.
>
> Salam IUK,
> Roddy
>
> Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the EE network.
> Original Message
> From: Perry Ismangil
> Sent: Wednesday, 20 April 2016 19:59
> To: Roddy Soenjoto
> Reply To: Forum Komunikasi Expat Indonesia di UK
> Subject: [indoexpat-uk] Laporan pandangan mata temu Jokowi
>
> Jadi, mana laporan pandangan mata pertemuan Jokowi? 😆
>
>
> --
>
> --
> Perry Ismangil
> _________________________________________________________________
> To unsubscribe or modify your subscription options, please visit:
> http://lists.indoexpat.org/mailman/options/uk/loverv2004%40yahoo.co.uk
> _________________________________________________________________
> To unsubscribe or modify your subscription options, please visit:
> http://lists.indoexpat.org/mailman/options/uk/perry%40ismangil.com
>
--
--
Perry Ismangil
_________________________________________________________________
To unsubscribe or modify your subscription options, please visit:
http://lists.indoexpat.org/mailman/options/uk/el01173%40yahoo.com
_________________________________________________________________
To unsubscribe or modify your subscription options, please visit:
http://lists.indoexpat.org/mailman/options/uk/goriu-uk%40m.gmane.org