RE: Malaysia bikin ulah lagi... http://ihateindon.blogspot.com/

"Sandy Kusuma" <[email protected]>
Newsgroups gmane.org.user-groups.linux.balinux
Message-ID <[email protected]>
Good response, Rijal.
I appreciate that.
 
Sandy Kusuma

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Rijal Asep Nugroho
Sent: 07 December 2007 11:42
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Bls: [BALInux] Malaysia bikin ulah lagi...
http://ihateindon.blogspot.com/



- Malaysia udah menghentikan sementara seluruh kampanye wisata yang
menggunakan lagu/kebudayaan yang masih berpolemik dengan indonesia. dan
mentri kedua belah pihak masih terus berdiskusi membahas soal ini. [
http://analisadaily <http://analisadaily.com/2007/Desember/5/index.html>
.com/2007/Desember/5/index.html ]

- Dalam kasus Reog, para pengembang dan pegiat kesenian reog adalah warga
Indonesia yang sudah menetap di Johor. Mereka mengembangkan kesenian Reog
Ponorogo dan sangat senang karena kesenian reog berkembang sangat pesat di
malaysia dan digemari seluruh kalangan. Sementara di Indonesia kesenian reog
hanya muncul secara berkala pada acara-acara tertentu saja. [
http://www.gatra. com/artikel. php?id=110079 ]

- Malayasia sangat menghormati dan menggemari keroncong dan gamelan. pada
tahun 2000, pernah diselenggarakan lomba keroncong se-johor. Perkembangan
Keroncong dan gamelan ini didukung penuh oleh kesultanan johor. para
penggagas dan pegiat keroncong di johor adalah orang-orang indonesia juga
yang sudah bermukim di sana. Sementara keroncong terus terpinggirkan di
indonesia, di malaysia malah mendapat tempat. sementara anak2 muda indonesia
lebih akrab dengan dangdut, rock dan pop, generasi muda malaysia mulai
menggemari keroncong. [ http://kompas.
<http://kompas.com/ver1/Internasional/0712/03/031649.htm>
com/ver1/Internasional/0712/03/031649.htm ]

- Tentang sebutan indon, memang sangat rasis. Ini idem ditto perlakuan
bangsa Indoensia terhadap warga Tionghoa. Di Indonesia, warga Tionghoa
disebut China, dulu warga Tionghoa memprotes sebutan yang mereka anggap
sangat melecehkan ini. Sebaiknya setelah merasakan tidak enaknya
diperlakukan secara rasis, kita mulai membiasakan menyebut warga Tionghoa
dengan Tionghoa, bukan dengan China.

- Soal TKW, kedua belah pihak sangat membutuhkan. Malaysia membutuhkan
tenaga dari indonesia, Indonesia juga membutuhkan malaysia untuk penyaliran
tenaga kerja. Kerja sama yang saling menguntungkan kedua belah pihak ini
seharusnya bisa berjalan dengan mulus. Sayangnya, pemerintah indonesia hanya
mau duit dari para TKI namun tidak pernah memperdulikan nasib para TKI.
Perlindungan yang diberikan pemerintah terhadap TKi sangat minim. Jangankan
untuk memberikan jaminan perlindungan, mendata jumlah TKI saja pemerintah
tidak mampu. ( Aneh khan, data berapa jumlah TKI yang pasti aja pemerintah
tidak punya).

Hanya mengajak kawan2 untuk introspeksi daripada cepat2 meneriakkan GANYANG.


.
 
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=1188327/grpspId=1705006580/msgId
=7071/stime=1196998917/nc1=3848642/nc2=4763759/nc3=4990215> 
 


[Non-text portions of this message have been removed]
lmpx.com only provides a reader for public news (NNTP) servers. It is not affiliated with the servers or forums shown here and is not responsible for the content of articles, which is written by their respective authors.