Re: Bls: Malaysia bikin ulah lagi... http://ihateindon.blogspot.com/
tiger <reservation-QdZzPx/[email protected]>
| Newsgroups | gmane.org.user-groups.linux.balinux |
|---|---|
| Message-ID | <[email protected]> |
Sebenarnya suatu kebudayaan adalah milik seluruh peradaban manusia
"Knowledge is belog to all of human being", jadi gak masalah reog ato
keroncong di pertunjukan oleh orang malaysia ato negara manapun. Tapi yg
masalah kalo sampai menyatakan itu budaya asli negara tersebut
("malaisya"), "ITU MASALAH LAIN LAGI" dan gak bisa dibiarkan begitu
aja.Dan malaysia sdh bikin ulah sejak dulu mulai dari memindahkan patok
perbatasan, maling kayu, maling pulau dan sekarang mencuri hak intektual
dan hebatnya mengubah sejarah "reog" (kayak istrael aja ...uh). Maka
tetangga tinggal tetangga, selama masih dipimpin manusia yg masih
dikendalikan nafsu, maka kita haru selalu siaga dan mawas diri. (LIHAT :
australia yg dulu begitu baik, malaysia yg dulu belajar dari kita, juga
singapur,....tapi sekarang ?????? ).
Saya punya sebuah video dokumenter buatan INDEF mengenai pelemahan
indonesia, video ini selalu saya lihat dan saya jadikan semangat dan
berusaha saya bagi kepada semua orang semagat dalam video ini. Saya
lelalu mengacu pada etos M. Gandhi dalam pelasanaanya, maka mungkin saja
dalam milist ini pun posting saya sering memunculkan suasana yg agak
panas, sebenarnya saya mengajak untuk bersama belajar membudayakan
"perbedaan" sebagai sebuah "keindahan", bukan sebaliknya ! (Coba
bayangkan kalo semua bunga di taman, semua serangga atau ikan dan
terumbu karang warnanya sama , INDAH kah kita lihat ????
Kalo perbedaan bisa kita buat menjadi suatu keindahan , kita akan sangat
mudah untuk menjadi bersatu dan kuat, ketahanan diri setiap insan dalam
bangsa ini pun akan menjadi kuat dan mandiri. Apa tetangga kita akan
berani coba coba seperti sekarang ? Untuk beranipun mereka harus pikir
dua kali. Jangan memnuntut semua pada pemerintah dg segala
keterbatasannya ("alasan saya bilang "terbatas" disini saya dapat
setelah melihat video buatan INDEF diatas, kalo ada yg mau ok free !),
tapi kita juga punya tanggung jawab sebagi pemilik negara ini, jangan
serta merta bilang "ganyang". Society Development adalah jawaban paling
rasional untuk keluar dari masalah ini, saya senang linux pun karena,
LINUX memberikan kesempatan lebih luas unuk melakukan Society Development.
Bersama dengan pemerintah kita berjuang dengan segala keterbatasan yg
ada, gak peduli siapapun persiden, menteri ataupun dpr-nya, "RIGHT OR
WRONG THIS IS MY COUNTRY" dan "saya mencintai negara saya dengan segala
keterbatasannya" karena keterbatasan adalah modal besar untuk maju !!!!
Mari kita wujudkan hal itu, dan MALAYSIA akan pikir 1000Kali untuk jadi
"MALINGSIA" demikian juga yg lain.
He......baru aja saya mendengar gambelan Bali jadi latar filem thailand
"The Ghost Game" (sorry sambil liat filem, kalo ada salah ketik mohon
dimaafkan....hehehhe)
wasalam
darma yasa
Rijal Asep Nugroho wrote:
>
> - Malaysia udah menghentikan sementara seluruh kampanye wisata yang
> menggunakan lagu/kebudayaan yang masih berpolemik dengan indonesia.
> dan mentri kedua belah pihak masih terus berdiskusi membahas soal ini.
> [ http://analisadaily.com/2007/Desember/5/index.html
> <http://analisadaily.com/2007/Desember/5/index.html> ]
>
> - Dalam kasus Reog, para pengembang dan pegiat kesenian reog adalah
> warga Indonesia yang sudah menetap di Johor. Mereka mengembangkan
> kesenian Reog Ponorogo dan sangat senang karena kesenian reog
> berkembang sangat pesat di malaysia dan digemari seluruh kalangan.
> Sementara di Indonesia kesenian reog hanya muncul secara berkala pada
> acara-acara tertentu saja. [ http://www.gatra. com/artikel.
> php?id=110079 ]
>
> - Malayasia sangat menghormati dan menggemari keroncong dan gamelan.
> pada tahun 2000, pernah diselenggarakan lomba keroncong se-johor.
> Perkembangan Keroncong dan gamelan ini didukung penuh oleh kesultanan
> johor. para penggagas dan pegiat keroncong di johor adalah orang-orang
> indonesia juga yang sudah bermukim di sana. Sementara keroncong terus
> terpinggirkan di indonesia, di malaysia malah mendapat tempat.
> sementara anak2 muda indonesia lebih akrab dengan dangdut, rock dan
> pop, generasi muda malaysia mulai menggemari keroncong. [
> http://kompas.com/ver1/Internasional/0712/03/031649.htm
> <http://kompas.com/ver1/Internasional/0712/03/031649.htm> ]
>
> - Tentang sebutan indon, memang sangat rasis. Ini idem ditto perlakuan
> bangsa Indoensia terhadap warga Tionghoa. Di Indonesia, warga Tionghoa
> disebut China, dulu warga Tionghoa memprotes sebutan yang mereka
> anggap sangat melecehkan ini. Sebaiknya setelah merasakan tidak
> enaknya diperlakukan secara rasis, kita mulai membiasakan menyebut
> warga Tionghoa dengan Tionghoa, bukan dengan China.
>
> - Soal TKW, kedua belah pihak sangat membutuhkan. Malaysia membutuhkan
> tenaga dari indonesia, Indonesia juga membutuhkan malaysia untuk
> penyaliran tenaga kerja. Kerja sama yang saling menguntungkan kedua
> belah pihak ini seharusnya bisa berjalan dengan mulus. Sayangnya,
> pemerintah indonesia hanya mau duit dari para TKI namun tidak pernah
> memperdulikan nasib para TKI. Perlindungan yang diberikan pemerintah
> terhadap TKi sangat minim. Jangankan untuk memberikan jaminan
> perlindungan, mendata jumlah TKI saja pemerintah tidak mampu. ( Aneh
> khan, data berapa jumlah TKI yang pasti aja pemerintah tidak punya).
>
> Hanya mengajak kawan2 untuk introspeksi daripada cepat2 meneriakkan
> GANYANG.
>